Jumat, 21 Oktober 2011

EPISTEMOLOGI EKSISITENSIALISME SOREN KIERKEGAARD DAN RELEVANSINYA BAGI ILMU KEAGAMAAN


  1. LATAR BELAKANG
Dalam puspawara literature keilmuan, Eksistensi sudah menjadi wacana filsafat yang cukup signifikan sebagai sebagai kontribusi pemikiran dari abad Contemporary Pholosopy[1]. Kemunculan eksiten ini- aliran filsafat yang lahir pada abad XIX oleh Søren Kierkegaard yang berpokus pada relasi individual dengan system[2], ada dan absurditas serta esensi dan sebuah pilihan keputusan telah memberi ruang khusus pada ranah epistemologi pemikiran akibat ketidak puasan beberapa filusuf dalam pandangan mereka terhadap filsafat Yunani sampai Moderen tidak ubah seperti protes rasionalisme Yunani pada spekulatif manusia yang berkesimpulan pada penolakan mengikuti suatu aliran pemikiran,keyakinan,ketidak puasan pada filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademik dan jauh dari kehidupan, juga pemberontakan terhadap alam yang impersonal yang memandang manusia terbelenggu dengan aktifitas teknologi yang membuat manusia kehilangan hakekat hidupnya sebagai manusia yang bereksistensi[3]. Dalam pada itu, kemunculan aliran ini juga dipengaruhi oleh sifat sifat umum bagi penganutnya dalam konteks penguatan yakni;a. orang menyuguhkan dirinya (existere)dalam kesunguhan yang tertentu, b. orang harus berhubungan dengan dunia, c. orang merupakan kesatuan sebelum berpisahnya jiwa dan badan, d. orang berhubungan dengan ada.[4]
Pada pertengahan 1940-an Filosuf Prancis Gabriel Marcel sudah merumuskan istilah “eksisitensialisme”[5] yang kemudian oleh Jean-Paul Sartre mengadopsinya. Begitupun Martin Haidegger sudah merumuskan khususnya eksistensi manusia yang oleh Karl Jaspers menyebutnya “ Existenzphilosophie” sekitar tahun 1930-an[6]. Namun bagaimanapun juga keduanya terpengaruh oleh Soren Kierkegaard filosuf Denmark yang menjadikan krisis eksistensi manusia sebagai tema sentral[7]sekaligus S.Kierkegaard dianggap sebagai eksistensialis pertama[8]
Sebagai filsafat yang menjadikan eksistensi manusia sebagai tema sentral, eksistensialisme tumbuh sebagai ragam filsafat manusia yang sangat berkembang terutama setelah Perang Dunia II. Namun, ini bukan berarti eksistensialisme itu baru terwujud sesudah Perang Dunia II, karena Kierkegaard sebagai peletak fondasinya menulis karyanya bahkan sebelum Perang Dunia I. Sebagian karya Heidegger, Jaspers, dan Sartre pun ditulis sebelum Perang Dunia II. Bahkan, terdapat alasan untuk menunjukkan bahwa dasar-dasar eksistensialisme juga ditemukan pada karya tokoh pengarang Rusia, seperti Dostoyevski, atau filsuf Jerman, Nietzsche, padahal keduanya tidak sampai mengalami Perang Dunia I[9].
            Keberadaan “Eksistensialisme” beransur popular sebagai cabang filsafat di bumi Prancis bahkan sampai penjuru dunia[10]. Søren Kierkegaard diakui sebagai Bapak Eksistensialisme. Namun, sebenarnya Sartrelah yang memopulerkan istilah “eksistensialisme”. Dari priodesasi perjalanan filsafat, tokoh tokoh pengaut eksistensialis selain S.Kiergaad (w.1855) terdapat tokoh yang lainya seperti:Karl Jaspers (w.1969), Martin Heidegger (w.1976), Gabriel Marcel (w.1973), Jean Paul Sart (w.1980)[11] dan Albert Camus. Namun ada yang mengatakan Friedrich Nietzsche juga, Franz Kafka, Miguel de Unamuno, Fydor Dostoievsky[12]. Dalam Konteks eksistensialis, keberadaan masing masing tokoh ini memiliki puspawara idea dimana mereka meletakkan pondasi dasar eksistensialisme baik secara diakroniksingkron dan mustahal terwujudnya figurasi universal eksistensialisme yang mencakup seluruh tokoh di atas. Memang dalam beberapa kasus tokoh yang satu memiliki pangaruh pada tokoh yang lain, tetapi akan menjadi lebih jelas jika menelaah eksistensialisme menurut pandangan masing-masing tokoh. Namun, secara umum empat masalah filosofis eksistensialisme adalah eksistensi manusia, bagaimana bereksistensi secara aktif, eksistensi manusia adalah eksistensi yang terbuka dan belum selesai, serta pengalaman eksistensial.
Namun orasi makalah ini, beroientasi pada Soren Kierkegaard dan Eksistensialismenya dimana dalam statemennya bahwa agama Kristen telah menyerang akal, dan hal itulah yang menybabkan terjdinya loncatan iman, juga statemen bahwa alam eksistensi mendahului alam esensi (existence preeceds essence) dan bukan sebaliknya[13].

  1. BILIOGRAFI
1.      Selayang Pandang
Søren Kierkegaard adalah orang luar dalam sejarah filsafat.kepengarangan aneh Nya terdiri dari array membingungkan titik pandang yang berbeda narasi dan subyek disiplin, termasuk novel estetika, karya-karya dogmatika psikologi dan Kristen, pengantar menyindir, filosofis "memo" dan "postscripts," ulasan sastra, wacana meneguhkan, polemik Kristen, dan retrospektif diri-interpretasi. arsenal Nya retorika termasuk ironi, satire, parodi, humor, polemik dan metode dialektis dari "komunikasi tidak langsung" - semuanya dirancang untuk memperdalam keterlibatan subjektif gairah pembaca dengan masalah eksistensial utama.[14] Seperti model peran nya Socrates dan Kristus, Kierkegaard mengambil bagaimana seseorang hidup hidup seseorang menjadi kriteria utama berada dalam kebenaran. model terdekat Kierkegaard sastra dan filosofis Plato, JG Hamann, GE Lessing, dan gurunya filsafat di Universitas Kopenhagen Poul Martin Moller, meskipun Goethe, Romantis Jerman, Hegel, Kant dan logika Adolf Trendelenburg juga pengaruh penting. pengaruh utama teologis Nya Martin Luther, meskipun reaksi nya ke Danish NFS nya sezaman Grundtvig dan HL Martensen juga penting. Selain menjadi dijuluki "bapak eksistensialisme," Kierkegaard dikenal sebagai kritikus tajam dari Hegel dan Hegelianisme dan untuk penemuan atau elaborasi dari sejumlah kategori filosofis, psikologis, sastra dan teologi, termasuk: kecemasan, putus asa, melankolis , pengulangan, kekuatan batin, ironi, tahap eksistensial, mewarisi dosa, suspensi teleologis dari paradoks, etika Kristen,, absurd reduplikasi, universal  pengecualian, pengorbanan, cinta sebagai kewajiban, rayuan, iblis, dan komunikasi tidak langsung.[15]

2.      Kelahiran dan kehidupan
            Dalam beberapa literaratur, kelahiran Soren Aabye Kierkegaard ditetapkan pada 5 Mei tahun 1813 disebuah kota Kopenhage Denmark[16]. Dalam usianya yang ke 42 tahun tepatnya pada tanggal 11 November 1855 ia meninggal dunia di tempat dimana ia dilahirkan yaitu Kopenhoge, Denmark. Soren Kierkegaard adalah anak ke tujuh dan terlahir dari sebuah keluarga saleh dan kaya penjual kaus kaki dan pakaian dalam yang dari pasangan Michal Pedersen Kierkegaard dengan Ane Sorensdatter.
            Dalam kehidupanya, Ayah SK sangat percaya bahwa tak satupun dari anak anaknya mencapai umur Yesus Kristus- 33 tahun dikarnakan ia dikutuk Tuhan dalam keyakinanya. Ia percaya bahwa dosa dosa pribadinya; mengutuk nama Allah masa mudanya, menghamili ibu SK diluar nikah menyababkan ia layak menjadi kutukan Tuhan dan menerima hukuman. Perkenalan tentang pemahan dosa dosa inilah ia memulai karirnya dengan meluncurkan beberapa Karya[17]. Dalam usianya yang ke 82 tahun ayah SK meninggal dunia tepatnya pada tangagal 9 Agustus 1838. Namun sebelum ia meninggal ayahnya terlebih dahulu meminta SK untuk menjadi pendeta. Sedikit demi sedikit pemikiran SK mulai terpengaruh oleh alur pengalaman keagamaan ayahnya dan merasa terbeban untuk memenuhi kehendaknya hingga menyebabkan menulis sebuah uraian sinoptik mengeai ayahnya:[18]
 "Ayah meninggal dunia hari Rabu. Saya sungguh berharap bahwa ia dapat hidup beberapa tahun lebih lama lagi, dan saya menganggap kematiannya sebagai penghorbanan terakhir yang dibuatnya karena cinta kasihnya kepada saya; ... ia meninggal karena saya agar, bila mungkin, saya masih dapat menjadi sesuatu. Dari semua yang telah saya warisi daripadanya, kenangan akan dia, potretnya dalam keadaan yang sangat berbeda (transfigured) ... sungguh berharga bagi saya, dan saya akan berusaha untuk melestarikan (kenangannya) agar aman tersembunyi dari dunia”
Meski ayahnya kaya SK dibesarkan agak ketat. Dalam masa studinya iapun keluar dari sekolah dikarnakan polosnya pakain bernuansa kekolotan kuno. Dia belajar untuk menghindari menggoda dengan hanya mengasah kecerdasan kaustik dan apresiasi yan lihai kelemahan psikolohis orang[19].  Dalam perjalanan usianya yang ke 17 ia dikirim kesalah satu sekolah terbaik di Kopenhag The School Of Civis Kebajikan untuk memerima pendidikan klasik. Ia lebih menghususkan pembelajaranya pada bidang latin dari pada bidang lainya dengan perolehan nilai yang sangt baik dalam bahasa Latin dan Sejarah. Kemudain ia melanjutkan studinya di University Kopenhagen dalam bidang Teologi. Namaun dalam kenyataan dalam masa studinya ia lebih tertarik pada Filsafat dan Literatur dan menulis tesisinya “Tentang Konsep Ironi dengan Rujukan Terus Menerus kepada Socrates”, yang oleh panel University dianggap sebagai terpenting. Kierkegaard lulus pada 20 Oktober 1841 dengan gelar Magistri Artium, yang kini setara dengan Ph.D[20]
Ketika ia berusaha keras untuk masuk kepanggung satra Denmark sebagai penulis, ia mengalami realita masalah yang bertentangan dengan teman temanya denga membedakn dirinya akdemis di sekolah husunya dalam latin dan sejarah. Publikasi awalnya ditandai denga konstruksi Jerman kompleks dan penggunaan brelebihan dari frase Latin. Namun kemudian ia menjadi Master ibunya salah satu dari dua stylist besr Denmark di zamanya[21].
Ada sebuah kehidupan terpenting dari seorang Kierkegaard adalah pertunanganya yang putus dengan Regine Olsen (1822-1904). Perjumpaanya dengan RO tepat pada tanggal 8 Mei 1837 yang kemudian membuat seorang Kierkegaard tertarik pada RO pun sebaliknya dengan Regine Olsen. Kecintaanya pada RO tertuang dalam tulisanya yang bebrbunyi :
Engkau ratu hatiku yang tersimpan di lubuk hatiku yang terdalam, dalam kepenuhan pikiranku, di sana ... ilahi yang tak dikenal! Oh, dapatkah aku sungguh-sungguh mempercayai dongeng-dongeng si penyair, bahwa ketika seseorang melihat sebuah obyek cintanya, ia membayangkan bahwa ia sudah pernah melihatnya dahulu kala, bahwa semua cinta seperti halnya semua pengetahuan adalah kenangan semata, bahwa cinta pun mempunyai nubuat-nubuatnya di dalam diri pribadi. ... tampaknya bagiku bahwa aku harus memiliki kecantikan dari semua gadis agar dapat menandingi kecantikanmu; bahwa aku harus mengelilingi dunia untuk menemukan tempat yang tidak kumiliki dan yang merupakan misteri terdalam dari keseluruhan keberadaanku yang mengarah ke depan, dan pada saat berikutnya engkau begitu dekat kepadaku, mengisi jiwaku dengan begitu dahsyat sehingga aku berubah (transfigured) bagi diriku sendiri, dan merasakan sungguh nikmat berada di sini.”[22]
Namun akhirnya tepat pada tanggal 8 September 1840 SK resmi meminang RO yang berahir pada sebuah kekecewaan serta melankolis tentang pernikahan. Dan kurang stu tahun sejak pinganganya ia memutuskanya pada tanggal 11 Agustus 1841

  1. EKSISITENSI DAN EKSISITENSIALISME
            Dalam pembahasan ini, kita harus menstaganasi dua kata yang hamper mengalami persamaan arti dan pungsi yang kemudian menjadi sesuatu yang utuh dan integral dalam konteks pendefinisian.
  1. Arti Eksistensi
            Eksisitensi berarti: Keberadaan[23]. Istilah Eksistensi[24], Existence[Inggri] berasal dari bahas Latin Existere (muncul, ada, timbul. Memiliki keberadaan aktual), dari ex (keluar) dan sister (tampil)[25]. Dari ini kita dapat menarik pengertia kanonik yakni bahwa segala sesuatu itu (apa saja) ada dan dialami secara sadar. Berbeda dengan esensi yang penekanaan lebi pada keapaan sesuatu ( apa sebenarnya sesuatu itu sesuai denga kodratnya). Lebih jauh lagi eksistensi adalah kesempurnaan dengan persfeksionis itu sesuatu menjadi eksisten[26] atau bahwa manusia berdiri sebagai dirinya sendiri dan keluar dari diri sendiri[27]. Aakan tetapi dalam filsafat Istilah Eksisitensialisme istilah Eksisitensi memiliki arti tersendiri yakni cara manusi aberada.
  1. Arti Eksisitensialisme
            Maknasisasi Eksisitensialisme sebenarnya erat kaitanya dengan Eksistensi yang merupakan penyatuan hakikat dan pungsi menjadi sesuatu yang integral. Bahwa pada intinya Eksistensialisme merupakan  aliran Filsafat yang beroientasi pada cara berada dan pengada pengada husunya eksistensi manusia di dalam dunia. Dan hal ini bearada dengan cara berada benda benda, sebab benda tidak sadar akan keberaaanya sebagai sesuatu yang memeiliki hubungan dengan yan lain serta keberadaanya di samping yang lain.
a.       Beberapa pengertian Eksisitensialisme dapat kita lihat dalam esai di bawah ini :
Ø  “Sebuah gerakan filsafat penetang esensialisme yang berorientasi pada manusia
Ø  Memandang dengan segala gejala berpangkal pada eksistensi
Ø  Bahwa eksisitensi bukanlah objek dari berfikir abstrak atau pengalamn kognitif, namaun merupakan eksisitensi subyektif dan penegasan bahwa eksisitensi mendahului esensi
Ø  Sikap dan pandangan dalam filsafat, teologi dan seni yang menekankan penderitaan, rasa gelisah manusia, melankonis, serta penekanan terhadap eksisitensi manusia dan kualitas yang menonjol bagi pribadi pribadi dan bukan kualitas manusia yang abstrak atau dunia secara umum.[28]
Ø  Eksistensialisme adalah faham filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia sebagai individu serta bertanggung jawab atas kemanusiaannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar.[29]
a.       Beberapa ciri pokok aliran Eksisitensialisme
Ø  “Pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern khususnya terhadap idealisme Hegel atau kritikal hegelisme
Ø  Suatu proses atas nama individualis terhadap konsep konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan kongkrit
Ø  Juga merupakan pembrontkan terhadap alam yang impersonal (tampa kepribadian ) dari zaman industry modern dan teknologi dan gerakan massa
Ø  Juga merupakan protes terhadap gerakan gerakan totakiter baik gerakan fasis, komunis, yang cendrung menengelamkan perorangan dalam massa
Ø  Menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksisitensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung”[30]
Ø  “Penekanan terhadap pengalaman kongkret dan eksisitensial
Ø  Bereksisitensi berarti dinamis yakni menciptakan dirinya secarar aktif, berbuat, menjadi, merencnakan,. Dan estiap saat manusia menjadi lebih atau kurang dari keadaanya. Disamping itu eksisitensialisme bersipat humanistis
Ø  Manusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus diebntuk. Pada hakikatnya manusia terikat pada dunia sekitarnya terlebih lebih pada sesama manusia”[31]
Mereduksi epilog di atas bisa kita katakan Eksisistensi dalam pengertian klasik bebarrti : merujuk kepada segala sesuatu yang diciptakan, baik makhluk hidup maupun benda-benda mati. Intinya, segala ‘ada’ yang terbatas adalah bereksistensi. Di sini, eksistensi berarti berada begitu saja dan cara adanya bersifat statis, tidak berubah. Eksistensi yang dimengerti dalam pemahaman klasik tidak berada dalam proses menjadi tetapi sesuatu yang telah selesai dan menetap[32]. Sedangakan SK sendiri lebih mentakhsisi makan eksis dalam kontek “sungguh sungguh secara totalitas dari cara berada manusia yang dinamis inklutif yang belum selesai yakni menjadi individu yang lebih kongkret dan relasi tertinggi sebagai makhluk rohani

  1.  PEMIKIRAN & RELEVANSINYA BAGI ILMU KEAGAMAAN
1.      Gambaran Umum Pemikirannya
Penekanan pemikirannya Kierkegaard merupakan kritik pedas atas Hegel, yakni dalam konteks aspek subjektivisme. Karna kesmuanya merupakan  manifestasi dari apa yang disebut Hegel sebagai fenomenologi roh maka individu manusia direduksi menjadi kawanan. Dengan demikian hal ini akan melenyapkan seorang individu dari tanggung jawab pribadinya secara etis bahkan juga melenyapkan eksistensi individu di dalam kerumunan kawanan. Oleh sebab itu melalui penekanan aspek subyektivitas ini Ia dikenal dan dianggap sebagai bapak eksistensialisme yang dipopulerkan oleh Sartre kelak. Pada saat yang sama Soren Kierkegaard juga mengadakan sebuah dialektika eksistensialis[33] yang menggambarkan perkembangan religiusitas manusia dari apa yang disebutnya tahap estetis, tahap etis, hingga tahapan religius. Masing masing tahapan ini memiliki penjelasan rinci yang Insya Allah akan kami ulaskan pada dialegtika eksisitensialisnya. Dan di sisnilah menurutnya orang akan mencapai pada titik kesejatian dimana orang sudah menjadi manusia relegius dan inilah oleh Kierkegarrd menyebutnya sebagai “lompatan iman”. Dalam arti-menurutnya bahwa manusia harus memusatkan dirinya dengan pihak yang sudah diberikan komitmen dalam pandanbgan bahwa komitmen selalu berkaitan dengan masa kini dan masa depan. Dimana masa depan ditandai dengan hal hal yang “belum pasti”. Nah dengan membuat komitmen. Maka manusia telah membuat masa depan yang “tidak pasti” menjadi “pasti”[34]
2.      Kebenaran Subyetifitas  dalam “aku kongkret”

Fokus perhatian SK terhadap eksisitensi “aku kongkret” berlanjut pada pandangan tentaang kebenaran. Bahwa kebenaran adalah subjegtivitas dimana manusia hanya mengetahu eksisitensi dirinya sendirii sebagai pelaku dan tidak mengetahui secara pasti kebenaran Objektif. Dengan demikian, sikap, perhatian keyakina dan harapan yang dianggap sebagai kebenaran mendahului kebeanaran fakta Ketak sangiupamn manusia merengkuk kebenaran objektif menyebabkan manusia pada perasaan gelisah dan hampa. Oleh karna itu, bagi SK kebenaran manusia menjadi maslah subjektifitas; maslah relasi manusia dengan sesuatu yang melampauinya serta menutut agar manusia memmberikan komitmen hidupnya pada kebenaran sebagaimana yang dipersefsikan. Dan SK juga menggagas bahwa realitas objektif itu ada itu ada dan hanya diketahui secara pasti dan sempurna oleh Yang Tak Terbatas (Allah), bukan oleh manusia[35]. Oleh karena itu, penting bagi manusia untuk “melompat” dan meyakini (memiliki iman) sesuatu yang berada di luar jangkauan pemahamannya, termasuk iman kepada Yang Transenden. Menurut Kierkegaard, eksistensi hanya dapat diterapkan kepada manusia sebagai individu yang konkrit, karena hanya aku individu yang konkrit ini yang bereksistensi, yang sungguh-sungguh ada dan hadir dalam realitas yang sesungguhnya. Oleh karena itu, aku yang konkrit ini tidak dapat direduksi kepada realitas-realitas lain, sebab jika aku yang konkrit ini direduksi ke dalam realitas-realitas yang lain itu, maka realitas diriku yang sesungguhnya sebagai individu yang bereksistensi tercampur dengan realitas-realitas itu. Dengan demikian, aku individu yang konkrit ini tidak memiliki kebebasan untuk mengembangkan dan mewujudkan diriku sebagaimana adanya karena aku tergantung kepada realitas-realitas itu. Ketergantunganku kepada realitas-realitas itu membuat aku tidak bisa untuk merealisasikan diriku sebagaimana aku kehendaki. Padahal menurut Kierkegaard, eksistensi manusia justru terjadi dalam kebebasannya
3.      Hirarki Pemikiran Dalam Dialektika Eksistensialis
Seorang diri S.Kierkegaard dalam beberapa karyanya lebih banyak pada pembahasan masalah masalah Agama seperti; Hakikat Iman, Lembaga Greja Kristen, Etika dan Teologi Kristen , Emosi serta Perasaan Individu ketika dihadpkan dengan pilihan pilihan Eksisitensial. Dari itu karya SK lebih digambarkan sebagai Eksisitensialisme Kristen dan Psikologi Eksisitensial. Namun juga dalam beberapa kesempatan ia sendiri sering mengkritik pendapatnya melalui nama samaran nama lain yang mencerminkan bahwa apa yang ia katakan sebenarnya tidak mutlak seperti itu.[36] Dari ini kita sebenarnya sulit membedakan pemikiran sfesifik Seorang SK dengan apa yang dikemukakannya sebagai argument dari posisi seorang pseudo-pengarang. Namun, dalam konteks individu inklusif kita bisa melihat beberapa rumusan Kierkegaard dalam eksisitensinya atau figurative realita manusia dalam kehidupan bereksisitensi. Diantara tahapn tahapan yang dimaksud dalam konteks dialegtika eksistensialis adalah sebagai berikut :
a.       Tahapan Estetis (The Aesthetic Stage)
Dalam tahap ini ada beberapa prototype manusia sebagai corak dasar yang membawa mereka pada kehidupan estetis yakni sifat naluri yang terbagi menjadi dua hal; kapasitasnya sebagai makhluk rohani yang mengacu pada kemampuan rasio dan keasadaran dan kapasitas menjadi makhluk sensual yang merujuk pada keinginan naluriah dan perasaan. Oleh SK sendiri paktor dominan manusia estetis adalah paktor kedua dimana ia hanya memenuhi keinginan diri sendiri tampa terikat oleh kaidah kaidah moral yang menurutnya ia hanya sebagai penghalang dalam kehidupan. Manusia estetis tenggelam dalam kenikmatan hawa nafsu serta cenderung menyerah pada dorongan dari dalam diri sendiri untuk mengejar segala kesenangan sensual dan juga berusaha menghindari segala bentuk penderitaan dan berusah mencari segala puspawara keni’matan itu dalam berbagai cara[37]. Sehingga dalam ranah ini terungkap sbeuah jargon nikmatilah hidup, dan lagi nyatakanlah itu: nikmatilah dirimu sendiri; dalam kesenangan itu engkau akan menikmati dirimu sendiri[38] Atau mungkin manusia esttetis manusia yang diperbudak hawa nafsunya. Karna motivasi terdalam bagi individu yang hidup dalam tahap ini adalah keinginan untuk menikmati kesenangan-kesenangan sensual dalam pelbagai varian. Artinya adanya kecendrungan mengikuti keinginan spontanitas atas dorongan-dorongan naluriah dan perasaan-perasaannya (immediate). Namun demikian tahap ini bukanlah termasuk makhluk arasional, hanya sanya pada saat itu prilaku lebih dominan akibat indera diskontrol.[39] Kecendrungan semacam ini akan lahir sikap penolakan terhadap kaidah kaidah moral, karna hal itu dianggap sebagai wereng keni’matan hidup ynag akhirnya mereka kehilangan prinsif moral, namun  yang ada adalah kepuasan (satisfaction) dan frustrasi, nikmat dan sakit, senang dan susah, ekstasi dan putus asa.[40] Kierkegaard menegaskan bahwa dalam tahap estetis ini, manusia terperangkap dalam “gudang” (cellar) pelbagai pengalaman inderawi yang menuntunnya untuk taat terhadapnya. Ketaatan terhadap pengalaman emosi dan sensuai ini membuat manusia estetis tidak memikirkan apakah tindakan itu baik (good) atau jahat (evil), apakah dapat dilakukan atau tidak. Karena itu, eksistensi tahap estetis dapat digambarkan sebagai usaha untuk mendefinisikan dan menghayati kehidupan tanpa merujuk pada yang baik (good) dan yang jahat (evil).
Sebagai contoh ril SK memberikan contoh protoatipe estetis oleh dia menganggapnya sebagai pahlawan atau mahkota opera mozartUntuk menerangkan eksistensi tahap estetis ini, Kierkegaard mengambil tokoh Don Juan sebagai prototipe manusia estetis. Don Juan adalah pahlawan atau mahkota (crown) opera Mozart[41].  DJ adalah seorang seducer yang hidup dan tenggelam dalam keni’matan sensualnya dan hampir kehidupanya berada dibawah perintah sensualnya  dalm konteks cinta misalnya, memburu gadis pilihanya yang diexpresikan via hasrat seksual tampa pertimbangan etis. Dj adalah cinta yang dideterminasi oleh kesenangan-kesenangan sensual. Kierkegaard mengatakan bahwa obyek dari keinginan manusia perayu adalah kenikmatan inderawi bagi diri sendiri[42]. Lebih jelas lagi DJ dalam pandangan SK terlihat dalam tulisanya yang mengatakan : Don Juan adalah gambar yang terus tampak dalam pandangan, tetapi tidak mencapai bentuk dan konsistensi, seorang individu yang terus dibentuk tetapi tidak pernah selesai atau sempurna, dari sejarah kita dapat memperoleh sesuatu yang tidak lebih daripada yang kita peroleh lewat deru ombak yang terdengar.[43]
Tahap ini merupakan figurative corak prototype estetetis yang masih gentayangan dan tertsesat dalam lautan kenikmatan. Dan memang manusia estetis tidak pernah mengalami kenikmatan hidup karna pengejaranya terhdap sensual semata. Dalam hal ini barang kali ada pertanyaan yang cukup menggelitik, sejauh mana eksisitensi pada tahap estetis ini? Dan samapai kapan ia tenggelam dalam dunianya? Serta apakah bisa kehidupan estetis ini dirubah? Dan kalo boleh kita bertanya apakah dalam tahap ini manusia telah membuat pilihan hidup berdasrkan natural?
Oleh karna itu S.Kierkegaard menandaskan bahwa Konteks kehidupan estetis sebenarnya tidak mengandung pilihan apa pun karena suatu pilihan harus didasarkan pada kriteria moral tertentu. Dalam tahap estetis, individu tidak memikirkan apakah tindakannya itu baik (good) atau jahat (evil). Singkatnya, ketika individu hidup hanya menuruti hasrat sensualnya, ia tidak memilih. Pada saat kriteria yang baik (good) dan yang jahat (evil) masuk dalam pertimbangan, barulah individu tersebut mulai membuat pilihan. Dengan demikian sebagai jawaban dari pertanyaan nomer tiga SK menegaskan bahwa manusia bisa keluar dari estetisnya itu ketika stsuiasi melankolis, atau putus asa ada pada diri manusia. Namun demikian jikalau manusia estetis berahir dengan keputus asaan, melankolis, apakah kemudian kehidupanya telah berarhir? Dan apa tindakan yang diperbuat setelah kehidupan itu? Maka Dalam ajaran Kierkegaard, masih ada satu dimensi lain yaitu dimensi keabadian atau rohani (kesadaran) sebagai instansi yang memungkinkan seseorang bergerak melampaui dimensi kemewaktuannya[44]serta yang menuntun pada suatu kesadaran. Kemudian manusia harus berani dan tegas dalam konteks kehidupan untuk memilih untuk bertahan dalam estettisnya atau melompat menuju tahapan yang lebih tinggi. Rumusan ini tertuang dalam sebuah lukisan SK yang berbunyi: “tiap pendirian hidup estetis adalah keputusasaan, dan bahwa setiap orang yang hidup secara estetis berada dalam keputusasaan, entah ia mengetahuinya atau tidak. Tetapi jika ia mengetahuinya, maka suatu bentuk eksistensi yang lebih tinggi menjadi tuntutan yang mendesak”.[45]
Dan inilah menurut SK solusi manusia untuk keluar dari jeratan tali estetis sehingga ia bisa menemjukan kehidupan yang lebih bermoral dan berharga.
b.      Tahapan Etis
Dalam tahapan ini ada nuantif yang bertolak belakang dengan tahapan pertama, dimana oleh S.Kierkegaard melukiskannya sebagai upaya penataan hidup dengan perhitungan kaidah kaidah moral universal dari pada terbelenggu dengan dunia estetis. Disni manusia mulai merujuk pada kategori baik dan tidak baik[46] dan tidak lagi dikuasai oleh kehendak kesenangan pribadinya naman mulai membuka diri dengan nuansa universalis. Sebagaimana SK katakana bahwa “seorang yang, “seorang yang hidup secara etis mengekspresikan yang universal dalam dirinya, ia membuat dirinya masuk dalam manusia universal.”[47]. Ini berarti bahwa penggunaan norma norma sebagai instrument dijadikan paradigma hidup menuju kehidupan yang harmonis. Di sini, dapat dikatakan bahwa dalam diri individu mulai tumbuh suatu kebebasan dan rasa tanggung jawab untuk berkembang menjadi persona. Pertimbangan rasio, suara hati dan refleksi mulai memainkan peranan penting dalam memberikan bentuk dan konsistensi pada kehidupan.[48]
Lebih jelasnya SK menyamakan peralihan tahap estetis menuju etis ibarat seseorang yang meninggalkan hawa nafsu seksual sebelum masuk dalam sunia pernikahan. Ini dikarnakan menurut SK bahwa pernikahn itu adalah institusi etis suatu ekspresi rasional inklusif dari hukum universal. Disini manusia menerima kaidah kaidah moral institusi seta meninggalkan estettis sensual. Disamping itu dunia pernikahan merupakan tahap pengexpresian cinta yeng lebih mantap dan sempurna dan manusia akan mengetahui bagaiamana manusia memperthankan cinta serta memeberikan bnetuk yang tetep dan konsisiten. Perkawinan tetap merupakan perjalanan yang paling penting yang bisa dilakukan oleh manusia. Semua pengalaman lain yang pernah dialami bersifat tidak mendalam dibandingkan dengan pengalaman yang diperoleh seseorang yang telah menikah karena ia telah memahami dengan tepat kedalaman dari eksistensi manusia[49]. Nampaknya SK ingin menegaskan bahwa institusii perkawinan sangat dijunjung tingi oelh seorang individu dan mewajibkan manusia untuk tunduk pada kaidah kaidah tersebut serta memelihara nilai nilai universal tersebut bila ia sudah memasukinya.
Selanjutnya SK menyebut seorang diri Sokrates sebagai (470-399 SM)[50] penganut moral absolute dan meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas fiosof, yang didasari idea idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan[51] dan rela mempertruhkan nyawawnya demi membela kemurnian nilai dan norma universal. Untuk Sokrates SK menyebutnya sebagai “pahlawan Tragis”. Hiruk pikuk dan pengorbanan kehidupan Sokrates oleh SK menyebutnya sebagai kesetiaan terhadap konsepsi kehidupan dalam perjuanagan yang lebih tinggi. Bagi SK, seorang Sokrtaes manusia etis senantiasa membela nilai nilai obyektif universalis tegar dan bertahan dalam suauanan apapun. Seorang manusia etis selalu berpandangan bahwa hidup yang baik didasarkan atas pengetahuannya akan kebaikan. Karena ia mengetahui bahwa nilai-nilai moral menjamin suatu kebaikan bersama, maka setiap sikap dan perilakunya dipertimbangkan dalam bingkai tuntutan nilai dan hukum yang berlaku.[52]
            Keyakinan bahwa hidup yang baik adalah hidup dibawah nilai nilai universal yang meajibkan manusia untuk menjunjung tinggi, memlihara, mentaati aturan nilai tersebut serta rela berkorban dlaam konteks etis itu merupkan ekspresi dari kualitas manusiaejati. Dan pada kali berikutnya ia akan merasa terikat dibawah tatanan tertentu septi Negara, kelompok kemasyarakatan serta komunitas lainya termasuk Gereja. Dan menurut SK manusia etis akan merasa ada sebuah kekurangan fundamental dan hal itu bukanlah kehidupan yang mulia. Bagi Kierkegaard, kekurangan dalam tahap etis adalah bahwa individu menghayati kehidupannya berdasarkan keselarasan dengan norma universal yang berlaku dalam komunitas, baik komunitas sosial (masyarakat, negara) maupun komunitas religius (gereja) dan bukannya pada kesesuaian dengan Allah.[53] Di sini, partikularitas (pemilihan) individu tenggelam dalam universalitas. Individu meninggalkan dirinya sendiri dalam partikularitasnya dan mendasarkan hidupnya pada universalitas, seperti masyarakat, komunitas atau kelompok, negara. Bagi Kierkegaard, hidup yang demikian akan berakhir pada keputusasaan merasa bersalah, gersang tidak bergaerah dan tidak bermakna. Namun demikan keputusasaan itu terbagi menjadi dua oleh SK menyebutnya sadar dan tidak sadar. Menurutnya keputusasaan hanyalah suatu langkah yang negatif dan mencelakakan eksistensi manusia bila pengalaman itu tidak disadari dan diatasi. Namjun sebaliknya oleh SK ,menyebutnya bila semacam itu disadari sebagai sebuah keterbatasan manusiawi dan ditanggapi secara positif maka akan lahir aupaya baru dalam individu untuk menatanya menjadi lebih baik. Dan bila keputusasaan itu dihayati secra sungguh sungguh sebagai pengalaman positif, maka itulah kehidupan yang sejati. Artinya bahwa untuk mearaih kehidupan yang lebih menjamin maka manusia harus menerobos segala yang negative sebagaimana ungkapan S.Kierkegaard dalam tulisanya  Keputusasaan pada dirinya sendiri adalah sesuatu yang negatif, ketidaksadaran terhadapnya merupakan suatu unsur negatif yang baru. Tetapi untuk meraih kebenaran orang harus menerobos segala yang negatif.[54]
            Dalam kaitanya dengan keputussaan SK menganggapnya sebagai awal kehidupan yang baru dalm meraih masa depan yang cerah dan hal itu akan menarik seseorang menuju tempatnya yang sebenarnya. Namun, bagaimana tempat yang sebenarnya, masa depan yang cerah atau hidup baru itu dapat dimengerti? Atau manakah gagasan dasar bagi keyakinan Kierkegaard akan tempat yang sebenarnya, masa depan yang cerah atau hidup baru itu? Kierkegaard akan menjawab dengan merujuk pada relasi yang mutlak antara Allah dan manusia. Relasi ini merupakan relasi yang terjadi sejak awal pembentukan manusia dan tak dapat dipisahkan karena keterpisahan dengan Allah mengakibatkan keputusasaan bagi manusia. Dengan demikian, tempat yang sebenarnya, hidup baru atau masa depan yang cerah yang dimaksudkan adalah kebersatuan manusia denagan Allah rendah diri menyerahkan sepenuhnya pada Allah dan pada akhirnya manusai akan menemukan ketenangan dalam hidupnya. Jadi, corak positif dari keputusasaan adalah bahwa ia menuntun individu untuk mendekatkan diri pada Allah yang pada-Nya manusia akan menemukan keberadaannya yang sesungguhnya. Dengan kata lain, keputusasaan dilihat sebagai pintu gerbang bagi individu untuk bergerak menuju Allah. Supaya manusia tidak terjerat dalam kaidah kaidah yang bisa menghalangi eksisitensinya maka mansia harus mengkui kehadiran Allah sebagai penjamin kepenuhan eksisitensinya dan memilih untuk meloncat pada tingkat yang lebih tinggi yaitu oleh SK menyebutnya sebagai tahapan “Religius”
c.       Tahapan Religius
Tahapan ini merupakan tahapan terpenting dan puncak kehidupan dalam konteks bereksisitensi. Dimana manusia merasa dirinya kecil dan tak berdaya samabil memnopang kekeuatan bantuan dari kekeuatan adi-manusaiwi[55] yang menjadi pusat penyerahan diri individu dan penyerahan diri itu bersifat tanpa syarat yang didasarkan pada keyakinan penuh bahwa Allah-lah satu satunya pegangan terakhir yang memberi rasa aman dan pengharapan bagi manusia.[56]. Kierkegaard mengatakan bahwa “diri dalam keadaan sehat dan bebas dari keputusasaan hanya ketika, tepatnya dalam keputusasaan, diri itu bertumpu secara transparan pada Allah.”[57]Itu berarti Allah dilihat sebagai tumpuan hidup manusia dan barangsiapa yang membuka diri terhadap-Nya akan memperoleh jaminan pembebasan dan keselamatan. Dengan kata lain, manusia yang ingin bebas dari situasi yang membelenggu dirinya dituntut untuk menerima Allah dengan penuh keterbukaan dan penyerahan diri yang total. Dalam tahap ini, individu yakin bahwa Allah dapat menghapus penderitaan dan keputusasaannya. Dan bila manusia telah samapai pada tahap ini itulah oleh SK menyebutnya sebagai “loncatan Iman” dan inilah satu satunya cara yang diyakini SK  agar manusia sampai pada Allah. Artinya bahwa hanya dapat dijumpai melalui subyektivitas dalam kedalaman batin personal dan bukan melalui jalan obyektif-rasional. Allah tak dapat dijelaskan dengan patokan akal budi manusia. Bagi Kierkegaard, tak ada satu pun konsep rasional yang dapat menjelaskan relasi Allah dan manusia yang unik dan amat subyektif itu. Dengan demikian iman merupakan sentral dalam konteks eksisitensi manusia religious dan manusia dalam penentuan sikap prilakunya tidak ditentukan oleh sensualitas dan normalitas universalis melainkan berlandaskan pada “iman”[58]
Kendati demikian SK sendiri dalam tahapan ini membagi dalam dua bagian yakni :Religius A dan Religius B. Religius A disebut religious “immanen[59]”digambarkan sebagai kepercayaan terhadap adi-manusiawi pemberi rasa aman, pusat pengharapan namun mengabaikan sisi trasendensi-Nya(Pewahyuan dalam diri Kritus)[60]sebagai penyelamat manusai. Individu dalam Religiositas A adalah “seseorang yang telah memahami kehancuran atau kelemahan tahap estetis dan etis, berusaha mengesampingkan hal-hal yang bersifat temporal dan melihat Kristus sebagai contoh manusia sempurna bukan sebagai Penyelamat.”[61] Corak religious ini oleh SK menyebutnya sebagai religious panteistik(wihdatul wujud)[62]. Tipe religus seperti itu, bagi Kierkegaard, bukanlah karakteristik hidup dari orang Kristen yang sesungguhnya. Baginya, “Religiositas A nyata dalam kekafiran (penyembahan berhala) dan dalam diri kaum Kristen yang kereligiusannya tidak mencerminkan dirinya sebagai orang Kristen, entah ia telah dibaptis atau belum. Religiositas sejati, menurut Kierkegaard, tidak terbatas pada tipe religius ini tetapi melampauinya. Artinya bahwa ketika berada dalam tipe religius ini, individu harus melakukan perlawatan rohani menuju puncak eksistensi tahap religius yang disebut Kierkegaard sebagai Religiositas B.
Bagian kedua adalah Religius B yang merupakan kebalikan dari A. Religius ini ditandai kesadaran kaan dosa dosa dan penerimaan ampunan. Dan oleh SK, inilah corak kehidupan Kristen sebagai karateristik tertinggi dan mulia yang mungkin untuk manusia, dimana manusia menghubungkan dirinya bukan dengan sesuatu yang immanen dan terbatas pada kehendak dan kesadaran dirinya sendiri melainkan dengan Allah yang transenden.
Lebih jauh lagi SK mmemaparkan prototype dalam religious ini adalah seorang Abraham. Menurutnya Abraham adalah sosok yang bertindak atas dasar iman. Dalam suatu perjanjian dengan Abraham, Allah berfirman, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran …”[63]. Disini SK menilai tindakan Abraham dalam memenuhi perintah Allah dipenuhi pengetahuan “imani”dimana ia berada dalam situasi batin yang pedih dimana ia menyadari diri sendiri sebagai subyek yang mengambil keputusan personal[64]. Bila Abraham mengikuti keinginan naluriahnya, ia akan menolak mengorbankan anak kandungnya karena hal itu terasa menyakitkan. Selanjutnya, bila Abraham berdiri pada tataran prinsip universal rasional, maka ia akan mengurungkan niatnya untuk menyembelih anaknya karena tindakan itu jahat dan dilarang secara moral. Abraham akan dibenarkan secara moral apabila ia bertindak sebaliknya, yaitu mengorbankan dirinya demi puteranya. Seorang manusia mempunyai kewajiban moral untuk memelihara dan menghormati kehidupan orang lain. Lantas, apa yang memotivasi Abraham untuk melakukan tindakan yang amat bertentangan dengan norma moral universal tersebut? Kierkegaard melihat suatu dimensi internal yang menggerakkan Abraham untuk bertindak. Dimensi internal itu tidak lain adalah iman atau kepercayaan (faith). Dengan menyanggupi apa yang diperintahkan Allah, Abraham membuat suatu loncatan iman (leap of faith) dan menerima yang absurd.
Disini bisa kita lihat bahwa iman yang dimiliki Abraham bukanlah iman bercorak obyektif melainkan bercorak subyektif. Abraham tidak berhadapan dengan kolektivitas atau institusi tertentu tetapi berhadapan langsung dengan Allah. Bagi Kierkegaard, Abraham pada saat itu berhadapan langsung dengan Allah yang perintah-Nya bercorak mutlak (tak dapat diukur oleh akal manusia) dan mewajibkannya untuk menentukan sikap. Iman personal Abraham kepada Allah mendorong Abraham mengambil keputusan untuk taat secara mutlak kepada Allah. Di sini menjadi jelas bahwa tindakan Abraham itu bukanlah sesuatu yang universal melainkan sesuatu yang partikular. Unsur partikular ini terlihat dalam iman personal Abraham pada Allah. Karena itu, oleh Kierkegaard, Abraham dijuluki sebagai “ksatria iman[65]. Dalam pad aitu, Abraham tetap yakin dan percaya bahwa yang diharapkan atau dikehendaki Allah, itulah yang terbaik untuknya meskipun ia tidak memahami bahwa perintah yang diberikan Allah itu sebagai tugas yang paling tinggi. Menurut Kierkegaard, tindakan Abraham tersebut sesungguhnya mencerminkan cinta dan ketaatan pada Allah di tempat pertama dari segala sesuatu.[66]  Yang melampaui segala  pertimbangan rasional. Dan inilah oleh SK menilai sebagai iman  Kristen sejati apabila ia bener bener menunjukkan jati diri sebagaimana teladan Abraham dan inilah eksisitensi manausia sejati dimanan menemukan makna hidupnya dalam relasi personalnya dengan Allah.

  1. RELEVANSINYA BAGI ILMU KEAGAMAAN
Konsef konsef manusia dalam Teori SK melalui tahapan eksisitensi mengandung unsure unsure positif yang relevan dengan ilmu keagamaan. Namun tidak berarti secara holistic bisa direlevansi dengan keagamaan Islam misalnya. Hal itu dikarnakan Agama Islam erat sekali kaitanya dengan keyakinan, dan bila keyakinan itu fiwal dari yang sebenarnya maka sudah barang tentu memiliki danfak negative bagi manusia sebagai individu atau kelompok masyarakat.
Ulasan SK mengenai tahapan manusia sebagai manusia eksisis sejalan dengan pemikiran keislaman dalam hal ini “Sufisme” secara universal. Celaan SK terhadap prilaku estetis yang mmembuat ia kehilangan diri dan terjerat dalam dirinya relevan dengan ajaran al-Quran yang mengajarkan nilai nilai estetika positif. Dimana manusia dilarang untuk menikmati dunia semata tampa memeperhatikan nilai nialai moral yang menjadi standar prilaku Islami.
      Kierkegaard melihat manusia sebagai subjek yang bergelut dan bertindak sebagai pelaku dalam hidup konkrit. Dia ingin agar subjek menampilkan diri apa adanya – menyelaraskan kehidupan batin dengan kehidupan lahiriah (tampilan luar). Tak boleh ada kepalsuan dan kemunafikan dalam hidup. Pandangan ini sungguh pas dan mengena dengan konteks kita saat ini, khususnya di Indonesia – fenomena calon legislatif (caleg). Banyak caleg yang mengumbar janji muluk kepada rakyat, bahwa mereka akan memperhatikan kesejahteraan rakyat dan sungguh mewakili suara rakyat (tampilan lahiriah). Namun, sebenarnya dalam batin mereka hanya menginginkan pemuasan akan kebutuhan pribadi mereka, bukan kebutuhan atau kepentiangan rakyat. Di sini, pandangan Kierkegaard menjadi “cambuk“ bagi mereka agar bisa menampilkan kehidupan secara jujur – tidak palsu, tidak munafik – .
      Kierkegaard juga ingin agar manusia menampilkan “diri otentik“ dengan keluar dari kerumunan atau massa. Dalam kerumunan orang tidak menampilkan individualitasnya, tetapi terlarut dalam arus massa dan ikut akut arus. Pandangan ini dapat diterapkan dalam kehidupan agama Katolik dewasa ini. Banyak orang yang masuk Katolik atau tetap mengaku diri Katolik karena ikut arus saja (khususnya di daerah yang mayoritas beragama Katolik), bukan lahir dari penghayatan pribadi. Orang bersembunyi di balik ”label“ agamanya tanpa tahu dan menghayati dengan sungguh bagaimana seharusnya beriman dan beragama. Di sini tidak hendak mengatakan bahwa kita keluar dari persekutuan agama Katolik, tetapi bagaimana menghayati iman secara personal dan dengan sungguh-sungguh. 
      Pandangan lain Kierkegaard yang bisa diterapkan dalam kehidupan kita dewasa ini adalah soal kebenaran sebagai subjektivitas yang bermuara pada penyerahan kepada Yang Tak Terbatas. Yang mau ditonjolkan di sini adalah iman (dengan diri yang terbatas mengakui realitas yang tak terbatas). Dalam kehidupan beragama dibutuhkan iman. Imanlah yang menghidupkan agama sekaligus menjawab keraguan, kecemasan dan ketakpastian manusia.  

  1. PENUTUP DAN KESIMPULAN

Ulasan SK dalam filasafatnya memang berbeda dengan filsafat klasik pada umunya. Sebaliknya ia memberi unsur dinamis bahwa bereksistensi berarti berada dalam proses menjadi, bergerak meninggalkan kekinian menuju masa depan, terlibat secara sadar dalam setiap pengalaman eksistensial. Dengan demikian, eksistensi manusia dalam filsafat klasik yang tak bedanya dengan sebuah batu mulai ‘diberi kehidupan’ dan ‘ditiupkan kesadaran’ padanya oleh Kierkegaard.
Untuk melukiskan pemahamannya mengenai eksistensi, Kierkegaard membaginya dalam tiga tahap, yakni eksistensi tahap estetis, eksistensi tahap etis dan eksistensi tahap religius. Dalam eksistensi tahap estetis, karakteristik dasar yang ditunjukkan adalah keterbukaan terhadap pengalaman emosi dan sensual dengan menganggap kesenangan dan kenikmatan inderawi sebagai unsur yang fundamental dalam hidupnya. Di sini, Don Juan ditampilkan sebagai prototipe manusia estetis yang senantiasa berusaha dengan beragam cara untuk memenuhi hasrat sensualnya yang bersifat sesaat (momentary) dan langsung (immediate). Dari realita ini maka manusia dalam bereksisitensi ahrus hijrah ke tahap yang kedua yakni tahap etis yang menjadi tuntutan mutlak yang harus dipenuhi.Tahap etis ditandai dengan keterbukaan dan penerimaan yang mutlak terhadap norma moral universal. Sokrates dipilih sebagai sosok manusia etis yang rela berkorban demi cinta dan ketaatannya pada norma universal. Namaun kenyataannya, pada tahap ini, manusia tidak menemukan ketenangan dalam hidupnya. Manusia etis dililit keputusasaan dan akhirnya baru menemukan makna hidupnya dalam relasi personalnya dengan Allah (tahap religius). Ia melakukan loncatan kepercayaan melampaui segala pertimbangan rasional. Dalam kebersatuannya dengan Allah, manusia menemukan pembebasan dan kepenuhan cara beradanya. Dengan demikian, unsur religius dari eksistensi manusia mendapat penekanan yang sentral dalam refleksi filsafati Søren Kierkegaard.



  1. DAFTAR PUSTAKA
  1. al-Kitab (Versi kristen)Kitab Kejadian.22:2-3. Al-Kitab digital
  2. Bagus, Lorens, Kamus Filsafat (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama,2000)
  3. Blog pada WordPress.com. Theme: Black-LetterHead by Ulysses Ronquillo.
  4. Cooper, DE, Eksistensialisme: Sebuah Rekonstruksi (Basil Blackwell, 1990)
  5. Daigle, Christine, Pemikir eksistensialis dan Etika (-Queen's tekan McGill, 2006)
  6. Ismail, Muhammad alhusaini al-Haqiqotul Mutlaqoh;Allah wad-Din wal-Islam(Mesir:Darul Kutub.1997.)terj:Kebenaran Mutlak;Allah Agama dan Manusia (Jatiwaringin:Sahara Publishers.cet II,2006)
  7. Internet. http//:.Eksitensialisme.com.(accessed 10-November-2010)
  8. Internet. http//: entries.com.(accessed 10-November 2010)
  9. Internet.http://indramunawar.blogspot.com/2009/03/aliran-eksistensialisme-filsafat-masa.html.Kamis, akses  Senin 13 November 2010 (09:00 Wib)
  10. Internet. www.satrioarismunandar6.blogspot.com) akses Jumat 8-11-2010
  11. Internet. www. entries.com.(accessed Jumat, 10-November 2010)
12.  Internet. www. Marcelsmm.multipliy.com. Diakses jumat, 10 November 2010. (08:30.Wib)
  1. Panjaitan, Bdk Ostina, Manusia sebagai Eksistensi Menurut Pandangan Søren Kierkegaard (Jakarta: Yayasan Sumber Agung, 1992)
15.  Ohoitimur, Bdk. J “Aliran-aliran Utama Filsafat Barat Kontemporer” (ttp:Seminari Pineleng, 2003)
16.  Partanto, Lihat Pius A dkk, Ilmu Filsafat:Suatu Pengantar (Jakarta:PT.Rineka Cipta,cet III.2008),hlm.345
17.  Sartre, Jean-Paul, L'est un Humanisme Existentialisme (Editions Nagel, 1946); Inggris ,Terjm. Eksistensialisme dan Humanisme (Eyre Methuen, 1948)
  1. Sudarsono, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya:Arkola,1994)
  2. Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, (Bandung:Remaja Rosdakarya,cet.ke-9 2001)
  3. Tjaya, Hidya Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri
  4. Ohoitimur, Yong “Dari Don Juan ke Abraham,” Manado Post (4 Oktober 2003)
  5. Weij, P. A. van der, Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia, terj. K. Bertens (Yogyakarta:Kanisius, 2000)
  6. Anonimous, Nikola Berdiyaev http://id.wikipedia.org. Diakses Rabu, 8 November
2010. (08:15.Wib)
24.  Anonimous, Soren Kierkegard. http://id.wikipedia.org. Diakses Rabu, 8 November 2010. (08:25.Wib)
25.  Anonimous, Soren Kierkegard, Journals. http://id.wikipedia.org. Diakses  10 November 2010. (09:25.Wib)


                [1]. Klasifikasi pemikiran Ketuhanan dalam Ajaran Filsafat dari Zaman Kuno sampai Zaman Kontemporer.Lihat Muhammad alhusaini Ismail, al-Haqiqotul Mutlaqoh;Allah wad-Din wal-Islam(Mesir:Darul Kutub.1997.)terj:Kebenaran Mutlak;Allah Agama dan Manusia (Jatiwaringin:Sahara Publishers.cet II,2006),hlm.538
[2]. http//:.Eksitensialisme.com.(accessed 10-November-2010)
[3]. http//: entries.com.(accessed 10-November 2010)
[4]. Sudarsono Ilmu Filsafat:Suatu Pengantar (Jakarta:PT.Rineka Cipta,cet III.2008),hlm.345
[5]. DE Cooper Eksistensialisme: Sebuah Rekonstruksi (Basil Blackwell, 1990),hlm.1
[6].Jean-Paul Sartre L'est un Humanisme Existentialisme (Editions Nagel, 1946); Inggris ,Eksistensialisme dan Humanisme (Eyre Methuen, 1948)
[7]. Stanford Encyclopedia of Philosophy http://plato.stanford.edu/entries/kierkegaard (accesed Jumat, 10-11-2010)
[8]. Christine Daigle, Pemikir eksistensialis dan Etika (-Queen's tekan McGill, 2006),hlm.5
[9] . www.satrioarismunandar6.blogspot.com) akses Jumat 8-11-2010
[10]. Artikel Keeksistensialismean
[11]. Muhammad al-Husain Kebenaran Mutlak…ibid,hlm.558
[12]. http//:.Eksitensialisme.com.(accessed 10-November10)
[13]. Ibid Kebenaran Mutlak….
[14]. Anonimous, Nikola Berdiyaev http://id.wikipedia.org. Diakses Senin, 8 November 2010. (08:15.Wib)
[15].  Ibid,,,,
[16] . Anonimous, Soren Kierkegard. http://id.wikipedia.org. Diakses Rabu, 8 November 2010. (08:25.Wib)
[17] . Hannay, Alastair, Kierkegard: A Biography (New Edition). (Cambridge:University Press.2003),
[18] . Ibid…Anonimous, Soren ,,,,(14:00.Wib)
[19] . Christine Daigle, Ibid  Pemikir eks….
[20] . www. entries.com.(accessed Jumat, 10-November 2010)
[21].  www. entries.com.(accessed Jumat, 10-November 2010)
[22]. Anonimous, Soren Kierkegard, Journals. http://id.wikipedia.org. Diakses  10 November 2010. (09:25.Wib)
[23]. Sudarsono, Ilmu Filsafat (Jakarta:PT Rineka Cipta,cet III,2008),hlm.344
[24] .Kata eksisitensi bahasa Indonesia yang berarti wujud; adanya sesuatu yang membedakan dua buah benda.Lihat Pius A Partanto dkk, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya:Arkola,1994),hlm.133
[25] . Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama,2000),hlm.183
[26] . Ibid,hlm.184
[27].  Ibid Sudarsono Ilmu…hlm 344 (artinya bahwa manusia sadar akan keberadaanya dan dlaam pemikiran ini jelas bahwa manusia dapat memastikan diri bahwa dirinya ada)
[28] . Ibid Lorens Kamus…hlm. 185
[30] . Ibid….
[31].  Ibid Lorens Kamus…hlm. 187
[32].  Bdk Ostina Panjaitan, Manusia sebagai Eksistensi Menurut Pandangan Søren Kierkegaard (Jakarta: Yayasan Sumber Agung, 1992), hlm. 13.
[33].  Hardiman, F Budi, Filsafat Modern: dari Machiavelli sampai Nietzsche. hlm 250-254
[34]. Internet. http://id.wikipedia.org/wiki/Paul_Tillich. [Akses,8-02-2011. 12:21.WIB]
[35] . www. Marcelsmm.multipliy.com. Diakses jumat, 10 November 2010. (08:30.Wib)
[36] . Anonimous, Soren Kierkegard. http://id.wikipedia.org. Diakses Rabu , 8 November 2010. (08:25.Wib)
[37] Bdk. J. Ohoitimur, “Aliran-aliran Utama Filsafat Barat Kontemporer” (ttp:Seminari Pineleng, 2003), hlm. 9
[38]. Blog pada WordPress.com. Theme: Black-LetterHead by Ulysses Ronquillo .(accessed Senin, 20-12- 2010)
[39] . Ibid Aliran aliran…..
[40]. Hidya Tjaya, Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, hlm. 89
 [41] .Blog pada WordPress.com. Theme: Black-LetterHead by Ulysses Ronquillo.
[42] ibid,,,,
[43]. Ibid,,,,
[44]. Kembali pada kapasitas manusia dalam panandasan SK :manjsia sebagai sebagai makhluk rohani atau yang abadi dan kapasitas sebagai makhluk sensual atau yang mewaktu. Hidup estetis hanya mengungkapkan dimensi kemewaktuan manusia (unsur sensual). Meskipun manusia berada dan dibentuk dalam dunia (dalam situasi kemewaktuan), ia juga merupakan pengada yang melampaui kemewaktuan. Artinya, tidak hanya terbatas pada kesenangan lahiriah tetapi juga mendambakan makna dan kepenuhan hidup sebagai manusia.
[45] . Anonimous, Soren Kierkegard. http://id.wikipedia.org. Diakses Senin, 20-12- 2010. (08:25.Wib)
[46]. Soren Kierkegaard, The Present Age and of The Difference Between A Genius and Apostle, translated by Alexander Dru (New York: Harper Tochbooks, 1962).terjemehan.  hlm. 43.
[47]. Blog pada WordPress.com. Theme: Black-Letter Head by Ulysses Ronquillo .(accessed Senin, 20-12- 2010)
[48]. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, (Bandung:Remaja Rosdakarya,cet.ke-9 2001),hlm.53
[49] Ibid Anominous,,,            
[50] . Tokoh filsafat Yunani Kuno yang dianggap paling berpengaruh dan kreatif serta memiliki daya nalar yang luar biasa dan dikenal sebagai pencinta kebijaksanaan.lihat Sudarsono, Ilmu Filsafat:suatu Pengantar (Jakarta:Rineka Cipta,cet.III.2008)
[51] .Ibid,, Ahmad Tafsir, Filsafat Umum
[52] . Yong Ohoitimur, “Dari Don Juan ke Abraham,” Manado Post (4 Oktober 2003), hlm. 28.
[53] . Ibid,,,Blog Word press..
[54] .Ibid,,,
[55] . Yang dimaksud adi-manusiawi disini adalah Allah sebagai adiraja dan adikara mutlak
[56]. P. A. van der Weij, Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia, terj. K. Bertens (Yogyakarta: Kanisius, 2000)
[57]. Ibid
[58]. Anonimous, Soren Kierkegard. http://id.wikipedia.org. Diakses Senin, 12- 2010. (08:25.Wib)
[59] .yang dimaksudkan oleh Climacus(nama samara SK) adalah ketidakbergantungan pada yang “transenden”, pada pewahyuan historis tetapi muncul dari pengalaman yang dialami secara umum bahwa seorang pribadi religius mendasarkan kebahagiaan abadinya pada Allah.
[60].  Peter Vardy, Kierkegaard, terj. Hardono Hadi (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm.72
[61] . Ibid.. “Alur argumen ini mau mengatakan bahwa individu tersebut menerima kehadiran Allah dengan keinginan atau kehendaknya sendiri karena sadar akan keterbatasannya tanpa menggantungkan diri pada kehendak Allah untuk memperoleh pengampunan dosa dan keselamatan”
[62] . Lorens Bagus, “Panteisme,” Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. 774 dan 325. Panteisme: ajaran filosofis yang mengemukakan bahwa Allah merupakan prinsip impersonal, yang berada di luar alam tetapi identik dengan-Nya. Panteisme meleburkan Allah ke dalam alam seraya menolak unsur adikodrati-Nya. Panteisme menyangkal ketakberhinggaan dan kebebasan sejati Allah dan karya penciptaan yang real.
[63] . al-Kitab (Versi kristen)Kitab Kejadian.22:2-3. Al-Kitab digital
[64]. Ibid Ohoitimur, “Aliran-aliran Utama Filsafat Barat,,,,,,,” hlm. 7.
[65]. Anonimous, Soren Kierkegard. http://id.wikipedia.org. Diakses Senin, 20-12- 2010. (08:25.Wib)
[66] . Ibid Peter Vardy, Kierkegaard,,,,hlm.79

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar