Jumat, 21 Oktober 2011

PENDEKATAN SOSIOLOGIS DALAM PENELITIAN AGAMA ISLAM



I.                   Pendahuluan
  1. Dinamika Sosiologi Kemasyarakatan dan Lahirnya Ilmu Pengetahuan
Seiring dengan laju sivilisasi klasik-modern, maka watak dan metodologi estimasi masyarakat mengalami akselerasi dalam berbagai varian. Karunia kecerdasan pada manusia telah digunakan secara sistemik sinhgkron dengan zaman kehidupanya, dimana ia mulanya menyesuaikan alat dengan tujuan dus hidup bertahan, menyusunya sebagai senjata, samapai pada tingkat naluru fikir yang systemic dan terjaga sampai sekarang[1]. Varian dan puspawara peibadatanpun telah menjadi cirri universal masyarakat manusia[2], sambil memikirkan secara mendalam permasalahan yang diangap krusial mengenai peribadatan mereka. Dengan demkian muncullah cirri cirri dari metodologi dalam bebruat, menanggap, mencerna serta mengamati dan menjawab ragam problematika yang mereka alami selama hidupnya serta peneropongan terhadap cara kerjapun mulai meluas. Ragam eksfresi peribadatan dalam keyakinan mereka itu, muncullah istilah teologi, filsafat Agama dan perbandingan Agama.[3]
Awal pengetahuan manusia, hanya sebagai solusi problematika mendesak, kemudian berkembang menjati satu kerangka estimatik sytemis yang berdimensi teoritis mengenai gejala gejala ilmiyah. Asumsi bahwa gejala gejala alam tidak terjadi secara kebetulan sebagaimana asumsi filsafat klasik yunani, namun ia tercipta melalui hokum kausalitas yang kadang manusia belum sempurna mengetahuinya. Dan apa yang dikenal dengan metode ilmu pengetahuan merupakan suatu jalan untuk mengetahui gejala materi tersbut, mengamati bahwa fakta fakta terjalin erat dalam hubungan kausalitas tersebut[4] Dengan demikian ,kita bisa mengetahui bahwa, pengetahuan akan hukum kausalitas menjadi hal yang krusial bagi  kelangsungan estimasi manusia dalam konteks penjagaan diri dan penghindaran diri[5].
Dari realita di atas maka lahirlah teori teori pengetahuan, epistemology, metodologi serta berujung pada kalsifikasi pengetahuan yang ditinjau dari beberapa segi menurut pakar masing masing. Misalnya menurut tujuanya, ia membagi menjadi Teoritis[6] dan Praktis[7], dimana kedua ilmu ini saling melengkapi dan tidak bisa terpisahkan. Hanya kadang ada yang mempelajari ilmu teoriteis saja atau praktis saja hingga sukar dibedakan mana ilmu yag masuk pada klasifikasi ini[8]. Kaitan dengan agama peranan ilmu pengetahuanpun menempati posisi utama dalam konteks mengetahui dan diketahui. Hanya sanay varian pendekatan yang digunakan tampak belum bisa mengupas tuntas phenomena Agama sesungguhnya. Dengan demikian semua cabang ilmu pengetahuan diharafkan mampu menjawab realita tersebut dengan pendekatan pendekatan yang singkron, dalam hal ini Sosiologi Agama sebagai salah satu teori dalam konteks menjawab penomenologi keagamaan sekaligus menjadi sebuah pendekatan yang relevan dengan kehiudpan manusia[9]. Asumsi ini kuat karna dalam kitab suci Agama Islam misalnya hamper secara keseluruha obyeknya manusia dan sivilisasinya.
  1. Historis dan Tokoh
Secara matematis sosiologi dalam perkembanganya bisa dibilang relative muda seiring dengan pola estimasi para pencetus serta realita social kemasyarakatan dan bila dibandingkan dengan imlu ilmu lainya. Ada yang menyebutnya kurang dari 200 tahun dan sebagainya.[10] Sosiologi dalam penyebutanya pertama kali diperkenalkan oleh Auguste Comte sehingga ia sering disebut dengan bapak sosiologi yang ia tuliskan dalam karya pertamanya “The Course of Positive Philosophy,1838. Dalam perkembanganya minat minat itu pun mulai diarahkan pada ranah keagamaan pada pertengahan abad ke-19 oleh sejumlah serjana barat, terutama pada agama dan keagamaan[11]. Sosiologi terus mengalami perkembangan dan perubahan walau kadang menguat dan melemah seiring mengacu pada wacana wacana tiplogis atau studi prilaku dan system keyakinan keagamaan. Sebagian mendasarkan pada observasi dan klasifiksi systematis bukan pada kekuasaan dan spekulasi, yang pada ahirnya menyebabkan munculanya beberapa aliran aliran dalam sosiologi terkait dengan tujuan dan ruang lingkup penerapanya.[12] Seperti misalnya aliran Klasik, Positivisme, Teori Komplik, dan aliran Fungsionalisme, dimana masing masing memilki orientasi serta metodologi yang berbeda, namun demikian aliran ini menjadi penting sehingga kita bisa mensintesiskan sesuai kebutuhan dan tingkat obyek yang kita teliti untuk digunakan sebagai sebuah teori.
Di tengah tengah abad ke-20 Agama mulai memproleh signifikansi marginal baik oleh sosiologi Eropa&Amerika Utara seirng dengan penyebutan mereka dengan postmodernitas dan modernitas tinggi serta bangkitnya agama ragam global baik secara sosiologis dengan sebuah konsekuensi keluar dari garis tepi disiplinya dan memanipestasikan tumbuhnya minat pada mainstream sosiologis yang pokus pada ekologi, perwujudan gerakan social, protes social, globalisasi, nasionalisme dan postmodernitas[13]. Simpulanya adalah perkembangan sosiologi sejak awal sampai modern sekarang masing masing memiliki ciri dan pendekatan serta tahapan tahapan  yang berbeda seirng dengan berbedanya tokoh masing masing sebagai pembawa aliran tersebut.
Kaitanya dengan tokoh tokoh yang dinisbahkan pada aliran aliran tersebut, bisa kita klasifikasikan dengan dua macam; tokoh perintis dan tokoh pengembang. Diantara tokoh tokoh[14] perintis yang dimaksud adalah ; a).Auguste Comte (1798-1857) membagi sosiologi berdasarkan statistika dan dinamika sosial[15], b). Karl Max[16], c). Emile Durkheim membagi soiologi berdasarkan sejumlah sub disiplin[17], d). Max Weber (1864)[18]. Selain itu juga ada serjana serjana barat terkenal seperti; Ward B Taiylor (1832-1917), Herber Spencer (1820-1903), Friedrich H Muller (1823-1917), Sir James G.Fraser (1854-1941), untuk tokoh yan ini lebih tertarik pada agama agama primiti. Selanjutnya di antara tokoh tokoh yang dianggap sebagai perintis adalah Peter Berger, C Wrigh Mills, Brom Selzing, Jac Douglas, Randall Colin dll. Yang jelas kajian sosiologi secara ilmiyah dan terbina mulai sekitar tahun 1900 hingga menjelang 1950 dengan munculnya sejumlah buku buku sosiologi agama yang sering disebut dengan sosiologi agama klasik. Untuk Klasik dikuasai dua tokoh ternama; Emile Dukhiem dari Prancis (1858-1917) dan Max Weber dari Jerman (1864-1920) yang kemudian digolongkan oleh para ahli sosiologi dalam sosiologi umum.[19]
Namun oleh Syamsudin Abdullah dalam bukunya “Agama dan masyarakat” [20] barang kali bisa kita kosumsi, telah menyebutkan ada beberapa aliran dalam sosiologi Agama lengkap dengan riwayat, teori konsep serta metode masing masing diantaranya: a). aliran Ibnu Khaldun (1332-1406) “Unggul dalam muqoddimahnya; Falsafah Sejarah, Metodologi Sejarah, Penggagas Ilmu Peradaban/FilsafatSosial. Konsef:  masyarakat Holistik dan perimbanganya dengan bumi (Sosiologi Umum), Klsifikasi etnik(Sosiologi pedesaan), Masyarakat Menetap (Sosiologi Kota), Masryarakat Kinerja (Sosiologi Industri), Masyarakat Ilmu (Sosiologi Pendidikan),.Teorinya adalah Teiri Ras. Metode: Analitik-identifik derivasi epistemology agama dengan cara menegtahuinya serta unsure unsure yang berkaitan dengan kemasyarakatan”, aliran Max Weber “Pelopor penyelidikan antara soal soal social dan pengaruhn berbagai agama. Konsef: Rasionalisasi Progresif. Metode : Metode Tipe Idel juga Komfarativ;pengamatan gejala gejala umum juga menggunakan varian tipologi”, aliran Joahchim Wach; “,Sosiologi agama hanya dapat dipaha,I dalam konteks ilmu agama. Metode : Tipologi-analitik”, dan aliran Gabriel Le Bras. Masing masin aliran ini memiliki karya cukup terkenal pada masanya dan sampai sekarang dengan mengulas gejala gejala masyarkat hubungannya denagn agama dan keagamaan masing masing.
  1. Sosiologi Agama dan Sosiologi Umum
Pada intinya antara sosiologi agama dan umum sebenarnya tidak memeiliki perbedaan secara holistic namun juga tidak sama pada wilayah wilayah tertentu. Artinya bahwa antara sosiologi agama dan umum memiliki kesamaan pada tingkat obyek serta kadang ruang lingkuf terapanya atau ranahnya, namun berbeda metodologi, asumsi, tujuan dan esensi dari penelitian tersebut. Kalau bisa kita ulaskan , sosiologi umum mengamati gejala gejala sosioal secara libral dengan tidak melibatkan dimensi dimensi keagamaan sebagai suatu esensi dan substansi, sedangka sosiologi agama dengan obyek sama namun pengkaitanya dengan keagamaan sebagai penomenologi dan esensi substansial.
  1. Pengertian
Kaitanya dengan sosiologi agama, maka kami perlu ulaskan reduksi defenitif sosiologi, agama, prinsip prinsip sosiologi dan objek kajian sosiologi agama, dengan demikia kita bisa mengetahui secara langsung esensi sosiologi beserta orientasi dalam konteks pendekatan di dunia keagamaan. Untuk sosiologi memiliki ragam defenitif yang diungkafkan para pakar sosiolog seperti: Pitirim Sorikin, Roucek dan Warren, Willian F. Ogbun dan Mayer F.Nimkof, J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers, Max Weber, Paul B. Horton, Soejono Sukamto, Allan Jhonson, William Kornblum . Namun demikian perbedaan itu hanya dalam konteks bahasa namun secara praktik memiliki titik temu dan sasaran yang sama pada hal hal tertentu[21]. Akan tetapi juag karna keuniversalanya disiplin sosiologi mencakup banyak hal dan memiliki ragam sosiologi yang mempelajari sesuatu yang berbeda dengan tujuan berbedabeda[22]
Sosiologi[23] dalam pengertian luasnya adalah ilmu tentang kemasyarakatan dan gejala gejala mengenai masyarakat , termasuk gejala gejala tentang institusi social  dan pengaruhnya terhadap masyarakat. Atau lebih sempit lagi sosiologi adalah ilmu prilaku masyarakat sebagai individu atau kelompok dan symbol symbol intraksinya.[24] Hal yang senada dengan Agama secara defenitif rumit untuk membahsakanya namun yang jelas agama berisi tentang seprangkat kepercayaan, dogma, kaidah kaidah moral, metodologi dan teori penyembahan, serta sprangkat pengetahuan secara fisika maupun metafisika.[25]
Dengan demikian sosiologi agama berarti : Ilmu yang membahas tentang Fenomena hubungan timbal balik, perbedaan & persamaan masyarakat secara utuh dalam konteks mencari keterangan keterangan ilmiyah mengenai masyarakat agama hususnya serta menemukan prinsip prinsip umum dalam hubunganya dus berbagai system agama, tingkat, jenis spesialisasi peranan agama dengan memandang agama sebagai phenomena social kemasyarakatan. Dalam hal ini orientasi sosiologi agama dalam konteks sebagai pendekatan adalah prilaku prilaku serta kausalitas dan hubungan timbal balik dalam sosialnya dan pengaruhnya cara beragama. Sedangkan dalam konteks agama, menganlisis, mengamati, mengemontari ilmu ilmu agama, teks teks yang disingkronkan dengan prilaku kamasyarakatan.

II.                APLIKASI PENDEKATAN SOSIOLOGI DALAM PENELITIAN AGAMA
  1. Peranan dan Pungsi Sosiologi Agama dalam Penelitian Keagamaan
Realita bahwa ajaran agama banyak sekali kaitanya dengan social kemasyarakatan baik secara teologis maupun hukum dan kaidah kaidah moral, maka pendekatan sosiologi menjadi signifikan dalam konteks memahami agama. Kalu kita cermati teks teks al-Quran misalnya atau Hadits, hampir keseluruhanya berbicara tentang prilaku serta tidakan manusia sebagai makhluk social dalam hal baik atau buruk. Disamping itu ganjaran pahala sebagian lebih besar persentasenya untuk muamalah[26] dari pada bidang ibadah. Kongkretnya misalnya cerita Para Nabi, Rasul, Ashabul Kahfi, orang salih, kaum terdahulu beserta tatanan sosialnya dll. Dalam pada itu sinyalir Allah tentang keharusan dari ummat sebagai soluftor terhadap problematika masyarakat dengan mengarahkanya kepada kehidupan yang lebih baik. Maka untuk memahami permasalahan tersebut serta ajaran ajarannya akan lebih jelas bila kita dekati dengan teori teori sosiologi.
Intinya bahwa sosiologi agama dapat memberikan kontribusi bagi instansi keagamaan dalam mengatasi problematika masyarakat dengan menunjukkn cara cara ilmiyah, bisa memberikan pengetahuan tentang pola pola intraksi social keagamaan yang terjadi pada masyarakat, memahami nilai nilai tradisi, norma norma, serta keyakinan yang dianut. Dengan demikian melalui pendekatan sosiologi, agama akan dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untukl kepentingan sosial[27].
  1. Pendekatan Sosiologi Agama dalam Agama dan Karatristiknya
Memandang bahwa pendekatan berarti cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama-Islam misalnya yang dapat dilihat dalam beberapa aspek sesuai dengan paradigmanya[28]. Dengan demikian penelitian agama dalam arti ajaran, system kepercayaan dengan memakai rumusan sosiologi sebagai suatu studi interelasi serta bentuk bentuk interaksi kemasyarakatan untuk melihat, memahami, memaparkan atau menjelaskan phenomena agama. Untuk melihat phenomena tersebut sebagai mana anjuran para tokoh, ada tiga landasan yang sering digunakan yang kemudian menggunakan logika logika dan teori teori sosiologi baik klasik maupun modern. Ketiga landasan ini masing masing memiliki karateristik tersendiri sehingga kadang bila persfektip yang digunakan berbeda, maka hasilnya juga berbeda. Diantaran lndasan tersebut seperti ; a). landasan Fungsional: “memandang masyarakat sebagai suatu jaringan organisis dan system yang stabil dengan suattu kecendrungan untuk mempertahankan system kerja yang selaras dan seimbang”, b). landasan konplik : memandang bahwa masyarakat terus menerus berada dalam konflik sebagai determinan utama pengorganisasian social sehinggan struktur dasar masyarakat sangat ditentukan oleh upaya upaya yang dilakukan berbagai individu dan etnik dalam konteks mendapatkan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan mereka”, c). landasan Intraksionisme Simbolik :“memandang manusia berbuat sesuatu berdasarkan makna makna yang dimiliki sesuatu tersebut yang merupakan hasil interaksi sosialnyang diakibatkan oleh kesesuaian bersama dari tindakan tindakan social individu”[29]. Dua landasan ini(fungsional&konflik) ini bekerja dengan cara analisis makro focus pada struktur social, sedangkan landasan interaksionalisme bekerja pada analisis mikro focus pada karateristik personal dan intraksi yang terjalin antar individu.
Disamping itu ada beberapa karatristik dasar pendekatan sosiologis yang dapat kita gunakan dalam konteks penelitian misalnya : a) Stratifikasi social meliputi kelas dan etnis, b). Kategori biososial meliputi sex, gender, keluarga, perkawinan dan usia, pola organisasi social; politik, ekonomi, sistem pertukaran dan birokrasi.
Teoritas sosiologis menggunakan paradigm dan konseftualitas analogis tentang dunia social yang didasarkan pada tradisi sosiologis, refleksi atas data emfirisme melalui investigasi historis dan penelitian social kontemfor. Pendekatan kualitatif sosioagama didasarkan pada skala besar survai terhadap keyakinan keyakinan keagamaan, nilai nilai etis serta praktek ritual. Sedangkan yang didasarkan pada skala kecil dengan menggunakan metode penyelamatan pertisipan  
  1. Setting Kasus Dalam Living al-Quran
Living al-Quran yang dimaksud dalam hal ini adalah menemukan fenomena social yang erat kaitanya dengan kehadiran al-Quran pada wilayah wilayah dan geografis tertentu, bukan pada esensi tekstual, dengan menempatkan al-Quran singkron dengan masyarakat pembacanya[30]. Dalam pada itu living al-Quran tidak  dimaksud mencari kebenaran otentisitas al-Quran sebagai teks atau konteks atau mencari kebenaran agama via al-Quran yang bersifat judgmgment sekelompok agama tertentu, melainkan mengedepankan tradisi social kemasyarakatan yang menempatkan agama sebagai system keagamaan yakni system sosiologis dari persfektif kualitatif[31]. Living al-Quran juga dapat kita kategorikan sebagai penelitian keagamaan dengan kerangka agama sebagai gejala social atau agama sebagai phenomena sosiologi, maka sebagaimana ulasan Dr. Atho Muzhar  desainyan akan menekankan pentingnya penemuan keterulanangan gejala yang diamati sebelum sampai pada kesimpulan. Lanjut Sahiron, juga menyebutkan dalam living al-Quran, diharafkan agar masyarakat muslim mensikapi dan merespon al-Quran dalam  realitas kehidupan sehari hari menurut konteks budaya dan pergumulan social serta dapat menemukan segala sesuatu dari hasil pengangamatan yang cermat dan teliti atas prilaku komunitas muslim dalam pergaulan social keagamaan hingga menemukan segala unsure yang menjadi komfonen terjadinya prilaku baik melalui struktur luar atau struktur dalam agar dapat ditangkap nilai yang melekat dari sebuah fenomena yang diteliti.[32]
Contoh real yang bisa kita aplikasikan adalah misalnya kita menaganalisis “Ibadah Ritual Personal”. Setelah kita menguraikan pendekatan serta metode dan teori yang digunakan dalam hal ini pendekatan sosiologis, selanjutnya kita akan menganalisis bagai mana model model teladan yang terdapat dalam al-Quran misalnya Para Nabi dan Waliullah atau bisa kita uraikan kisah kisah teladan individu selanjutnya kita akan menganalisis stratifikasi social beserta bagiannya dari obyek yang kita ambil serta kategori bisosial dan bagianya. Juga bisa kita menjelaskan kehidupan yang terkoleksi serta sytem interaksinya dengan masyarakat samapai pada sebuah kesimpulan. Dengan demikian kita bisa merespon bahwa al-Quran sebagai realitas kehidupan sehari hari dalam konteks budaya dan pergumulan social dll.
III.             PENUTUP
  1. Epilog
Sosiologi Agama sebagai Ilmu kemasyarakatan sekaligus menjadi alternative praktis dalam konteks menemukan serta memeberikan jawaban jawaban dari problematika fenomena keagamaan suatu masyarakat merupakan suatu disiplin ilmu yang lahir dan tumbuh seiring dengan berkembangnya problem problem kemasyarakatan dalam beragama baik secara langsung dan tidak lansung. Termasuk di dalamnya adlah kehidupan beragama kaum Muslim, yang merupakan fenomena social dengan ruang lingkup kajian ynag sangat luas. Pendekatan sosiologis mempunyai peluang yang sangat besar untuk berkembang dalam lingkup ilmu keislaman.  Dalam pendekatan sosiologis erat sekali kaitanya dengan teori teori sosiologi baik klasik maupun modern serta landasan sebagai pendekatan dasar seperti structural-fungsional, konplik dan intraksionisme-simbolis. Hal yang tidak bisa kita pungkiri adalah agama sebagai penomena social yang mencakup kepercayaan serta berbagai praktiknya merupakan problem social yang senanatiasa kita temukan pada setiap masyarakat. Agama merupakan suatu institusional penting yang melengkapi keseluruhan system social serta menyangkut aspek kehidupan manusia yang dapat transedensinya mencakup sesuati yang mempunyai arti penting dan menonjol bagi manusia juga sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling sublime, sumber moralitas, sumber tatanan masyarakat dan perdamaaian bathin individu.
Dalam pada itu produk penelitian pendekatan sosiologis bisa saja mengalami perbedaan dengan agam yang terdapat dalam doktrin kitab suci. Sosiologi agama bukan mengkaji pada tingkat marginal salah atau benar, namun bagaimana agama tersebut dihayati dan diamalkan oleh pemeluknyaatau sederhananya cara beragama. Sehingga kadang apa yang ada dalam doktrin kitab suci berbeda dengan apa yuang ada dalam kenyataan empirik. Namun hal semacam itu bisa saja kita sintesiskan dengan memakai pendekatan yang leboh dekat dengan agama sehingga teori teori social yang sudah lama dikenal singkron dengan nila nalai agama pada umunya.
Jelasnya bahwa pendekatan sosiologis menjadi urgen dan perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius lagi terhadap gejala gejala social yang selanjutnya mendorong kaum beragama memahami ilmu social sebagai dus memahami agamanya. Benarlah apa yang Jalaluddin Rahmat tunjukkan besarnya perhatian agama terhadap problem sosial[33]. Dalam hal ini misalnya penelitian terhadap living Quran sebagai tawara alternative yan menghendaki bagaimana hubungna timbal balik dan respon masyarakat dalam kehidupan sehari hari, dimaknai secara fungsional dalam konteks fenomena social, dimana al-Quran mampu membentuk dunia social. Karna kalau kita cermati, banyak ayat ayat yang erat kaitanya dengan social kemasyarakatan disamping figurative problem juga menawarkan cara bermasyarakat yang lebih positif obyektif serta dapat diterima oleh kebanyakan manusia yang perlu kita dekati melalaui aspek sosiologis secara utuh misalnya kisah Nabi dan para Rasul, ashabul kahfi, waliullah, orang orang mukmin dan nonmukmin serta pesan pesan moral, keimanan, ketaqwaan, sehingga dapat dapat kita aktualisasilan sesuai dengan living Quran tersebut. 
Daftar Pustaka

1.      Abdullah, Syamsuddin Agama dan Masyarakat (Jakarta:Logos Wacana Ilmu,cet.1 1997)
2.      Arikunto, Suharsim Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktek.(Jakarta: Rineka Cipta, 2002)
3.      Connolly (ed.), Approach to the Study of Religion, diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dengan judul, Aneka Pendekatan Agama¸terj, Imam Khoiri (Yogyakarta: LKIS, 2002)
  1. Dea, Thomas F O sosiologi Agama Suatu Pengenalan Awal,( Jakarta:Rajawali Press,1992)
5.      Djojodigieno, MM.Asas asas Sosiologi (Yogyakarta:Badan Penerbit Gajah Mada, 1960)
6.      Farid Ahmad, Ilyas Ba-Yunus, Sosiologi Islam: Sebuah Pendekatan, terj. Hamid Ba-Syaib (Bandung:Mizan, 1996)
7.      Hendropuspito Sosiologi Agama, (Jakarta:Penerbit Kanisius,cet.22,1983)
8.      http://id.wikipedia.org/wiki/sosiologi. akses Rabu, 5-01-2011. 10:50.Wib
9.      Johnson, Doyle Paul Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspektive, (terj) Robert M.Z Lawang, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, (Jakarta: Gramedia, 1994)
10.  Lawang, Robet MZ Pengantar Sosiologi,(ttp:Universitas Tebuka,1999)
11.  M. Yatimin, Abdullah, Studi Islam Kontemporer. (Jakarta:Amzah, 2006)
12.  Nata, Abuddin Metoologi Studi Islam (Jakarta: Grafindo Persada, 2001)
13.  Polak, Maijor Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas (Jakarta:Ichtiar Baru Van Hoeve, 1991)
14.  Purfey, Paul Hunly The Chope and Method of Sosiology;a Metasociological Treatice. Terjemahan
15.  Rakhmat, Jalaluddin Islam Alternatif (Bandung: Mizan, 1986)
16.  Sandersson, Steven K. Sosiologi Makro, terj. Hotman M. Siahaan (Jakarta: Raja Grafindo Persada:1995)
17.  Scharf, Betty R. The Sosiological Studi of Religion. Terj. Sosiologi Agam (Jakarta:Kencana,cet.1,2004)
18.  Syamsuddin Sahiron (ed), Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis, (Yogyakarta:Teras, cet.1,2007)
19.  Syani, Abdul Sosiologi Dan Perubahan Masyarakat (Lampung:Pustaka Jaya,1995) hlm.2, Tim MGMP, Sosiologi SUMUT, Sosisologi (Medan: Kurnia,1999)


[1] . Syamsuddin Abdullah, Agama dan Masyarakat (Jakarta:Logos Wacana Ilmu,cet.1 1997),hlm.9-10
[2]..Betty R. Scharf, The Sosiological Studi of Religion. Terj. Sosiologi Agam (Jakarta:Kencana,cet.1,2004),hlm.1
[3] . Ibid…
[4]. Paul Hunly Purfey, The Chope and Method of Sosiology;a Metasociological Treatice. Terjemahan
[5]. Ibid,,,Syamsuddin,,hlm 10
[6]. Yakni pengetahuan yang menuju ke pengetahan yang benar  demi pengetahuan itu sendiri. dan di sana ada Nomor thetic dan Idiografic
[7]. Yakni disamping menuju ke pengertian pengetahuan itu sendiri juga menuju kearah yang lain dan praktis; menunjukkan bagaimana orang berbuat atau membuat sesuatu. Disana ada Normatife dan Teleologis
[8]. MM.Djojodigieno, Asas asas Sosiologi (Yogyakarta:Badan Penerbit Gajah Mada, 1960),hlm.7-17
[9]. Hendropuspito Sosiologi Agama, (Jakarta:Penerbit Kanisius,cet.22,1983),hlm.7
[10]. Thomas F O’dea, sosiologi Agama Suatu Pengenalan Awal, Jakarta: Rajawali Press,1992, hlm. 25-27
[11]. Doyle Paul Johnson, Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspektive, (terj) Robert M.Z Lawang, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, (Jakarta: Gramedia, 1994), cet.3, hlm.4
[12]. Maijor Polak, Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1991),hlm. 7.
[13]. Peter Connolly (ed.), Approach to the Study of Religion, diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dengan judul, Aneka Pendekatan Agama¸terj, Imam Khoiri (Yogyakarta: LKIS, 2002),hlm.269-270
[14]. Robet MZ Lawang, Pengantar Sosiologi,(ttp:Universitas Tebuka,1999)
[15]. Dikenal dengan perintis istilah sosiologi dalam karyanya “Course de Philoshopy Positive”;menerangkan Tiga Jenjang Manusia;Teologi, Metafisic,Positive
[16]. Dikenal dengan ahli Ekonomi, Filsafat, aktivis sosialisme dalam tulisanya “The Comunis Manifesto”; memandang bahwa sejarah manusia merupakan sejarah kelas
[17] . ia lebih menekankan pada fakta soisal;cara berada, berfikir, berperasaan dan cara berada di luar individu dalam bukunya “Devision of Labor in Society”; dengan membagi sosiologi menjadi;soiologi umum, agama,hokum%moral tentang kejahatan,ekonomi,demografi,estetika
[18]. Ia memiliki banyak karya, baik secara rasional maupun kepercayaan. Di juga menekankan pada tindakan orang lain sebagai tolak ukur kebenaran.
[19] . Ibid Hendropuspito Sosiologi…..hlm.14
[20] . Ibid,, Syamsuddin Abdullah, Agama dan,,,hlm.57-99
[21] . http://id.wikipedia.org/wiki/sosiologi. akses Rabu, 5-01-2011. 10:50.Wib
[22] . Steven K. Sandersson, Sosiologi Makro, terj. Hotman M. Siahaan (Jakarta: Raja Grafindo Persada: 1995) h. 2.
[23]. Berasal dari bahasa Latin” socius”: teman/kawan. Sedangkan “logos”:berbicara/berkata. lihat Abdul Syani, Sosiologi Dan Perubahan Masyarakat (Lampung: Pustaka Jaya, 1995) hlm.2, Tim MGMP, Sosiologi SUMUT, Sosisologi (Medan: Kurnia, 1999) hlm. 3
[24] . Ibid,, Syamsuddin Abdullah, Agama dan,,,hlm.13
[25] . Dalam kontek definisi mengenai agama sudah banyak diulas oleh pakar agama agama  dengan merujuk varian pendekatan dan ruang lingkuf. Namun kesemua definisi itu belum mencakup secara keseluruhan
[26] . para pakar mengatakan ayat ayat muamalah hamper berbanding 1:100 dengan ayat ibadah. Dan yang terkait dengan muamalah banyak diulas dalam surat al-Baqorah, an-Nisa’, almaidah dsb.
[27] . Abuddin Nata, Metoologi Studi Islam (Jakarta: Grafindo Persada, 2001) hlm.42.
[28] . Abdullah, M. Yatimin. Studi Islam Kontemporer. (Jakarta: Amzah, 2006),hlm.58
[29]. Ilyas Ba-Yunus, Farid Ahmad, Sosiologi Islam: Sebuah Pendekatan, terj. Hamid Ba-Syaib (Bandung: Mizan, 1996) hlm.20-24.
[30] . Sahiron Syamsuddin (ed), Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis, (Yogyakarta: Teras, cet.1,2007),hlm.51
[31] . Ulasan mengenai penelitian persfektik kualitatif dan kuantitatif yang biasanya langsung disebut dengan penelitian kualitatif dan kuantitatif rincianya, baca Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktek.(Jakarta : Rineka Cipta, 2002)
[32] . Ibid…
[33]. Dalam hal ini lima alasan dasar yang beliau tunjukkan dalam konteks perhatian agama terhadap problem kemasyarakatan. Lihat Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif (Bandung: Mizan, 1986) hlm.48

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar